Nisahmad's Blog

Meniti Di Atas Kabut Cinta…Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Sampaikan dariku meski hanya satu ayat …" (HR. Al-Bukhori, VI/3461)

BUAH YANG DIPETIK KARENA MEMILIKI ISTRI SHALIHAH

Posted by nisahmad on April 18, 2009

Kemudian sang penulis menurunkan puluhan point point – ada 36 point –
sebagai buah yang bisa didapat karena memiliki istri shalihah. Sebagiannya akan saya kutip di sini. Inilah dia :

– Bernilai taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Nabi menganjurkan untuk menikah.

– Menta’ati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan arahan agar menikah dengan wanita shalihah.

– Menjauhkan prasangka orang bahwa dia seorang yang lemah (syahwat), fajir atau prasangka buruk lainnya.

– Menghasilkan keturunan yang baik dan menyambung nasab, dengannya dia bisa mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) “Jika anak Adam mati, maka putuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara.” Nabi menyebutkan diantaranya, (yang artinya) “atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

– Pahala yang akan diperoleh oleh pasangan suami istri setiap kali berinfak, menolong, mengucapkan kata kata yang baik dan menyingkirkan gangguan.

– Istri shalihah akan mendo’akan suaminya ketika shalat, berdiri maupun duduk. Dia juga akan mengucapkan terima kasih atas usahamu, atas nafkah yang telah engkau berikan kepadanya dan kebaikanmu. Karena tanda wanita shalihah adalah berterima kasih kepada suami yang telah berlaku baik kepadanya.

– Pahala yang besar sebagai konsekuensi mendidik anak anak dengan baik.

– Sesungguhnya menikahi wanita shalihah adalah merupakan perhiasan dunia, keelokannya dan keindahannya. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):”Dunia itu adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan adalah istri yang shalihah.” (HR. Muslim).

– Menikah dengan wanita shalihah akan mendukungnya untuk melakukan keta’atan dan memudahkan baginya untuk menekuni ibadah.

– Menikah dengan istri shalihah lebih dekat (mudah) untuk mendatangkan kebahagiaan, Dia mengetahui hak kepemimpinan suami.

– Istri shalihah senantiasa berorientasi pahala setiap kali bekerja. Dia tidak akan mendurhakai suami atau membangkang kepadanya.

– Wanita shalihah menjadi teman yang betah tinggal di rumah, bukan orang yang hobi keluar masuk rumah sebagai realisasi dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya): “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumahmu.” (QS. Al Ahzaab : 33).

– Jika suatu ketika musibah kematian menimpa seorang suami, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkannya, maka istri shalihah akan setia mendo’akanmu, memohonkan rahmat dan maghfirah serta berusaha meninggikan derajatmu di akhirat.

BUAH MEMPERISTRI WANITA SHALIHAH

Buah dan akibat pernikahan dengan wanita shalihah, salah satunya adalah terjaganya anak anak, baik ketika anaknya masih hidup maupun setelah wafat. Sang penulis menjelaskan kiprah wanita – wanita muslimah dalam membina pemimpin ummat, para ulama dan tokoh-tokoh islam. Saya kutip salah satunya, yang cukup menarik, yaitu kisah Rabi’ah Ar Ra’yi, gurunya Imam Malik bin Anas. Inilah kisahnya.

Abdul Wahhab bin Atha’ Al Khaffaf berkata: Para masyayikh di Madinah bercerita bahwa Farrukh Abu Abdurrahman ayahanda Rabi’ah rahimahullah keluar untuk berperang ke Khurasan di masa pemerintahan Bani Umayyah. Ketika itu Rabi’ah, putra beliau masih menjadi janin di rahim ibunya. Farrukh meninggalkan untuk istrinya Ummu Rabi’ah 30 000 dinar. Selanjutnya dia menghilang dari Madinah dalam jangka waktu yang sangat lama. Kemudian baru kembali setelah dua puluh tujuh tahun kemudian. Dia mengendarai kuda dengan
membawa tombak di tangannya. Ketika dia sampai di Madinah langsung menuju ke rumahnya dan membuka pintu dengan tombaknya, lalu masuk rumah. Tiba tiba Rabi’ah keluar menemui dia sedangkan beliau tidak tahu bahwa dia adalah ayahnya. Rabi’ah berkata : “Wahai musuh Allah, apakah engkau hendak menyerang rumahku?” Farrukh menyahut : “Wahai musuh Allah, engkau yang hendak mengganggu istriku di rumahku.”

Lalu keduanya saling terkam, masing masing mencengkeram leher yang lain dan bermaksud untuk memukulnya. Suara keduanya makin keras hingga para tetangga berkumpul. Lalu sampailah kabar tersebut kepada Malik bin Anas rahimahullah dan beberapa syeikh. Mereka segera ingin membantu gurunya (Rabi’ah) untuk mengalahkan musuh yang memasuki rumahnya. Rabi’ah sampai berkata : “Demi Allah aku tidak akan melepaskanmu sampai melaporkannya kepada Sulthan”. Begitupun Farrukh, dia berkata : “Aku tidak akan melepaskanmu kecuali di hadapan Sulthan, karena engkau mengganggu istriku!” Perdebatan semakin ramai. Ketika mereka melihat Imam Malik, mereka pun diam. Lalu Malik berkata kepada Farrukh: “Wahai syeikh, Anda memiliki bukti selain rumah ini?”Farrukh berkata: “Ini adalah rumahku dan saya adalah Farrukh.” Ketika itu, istrinya mendengar suaranya, lalu dia bergegas keluar dan berkata: “Ini suamiku, dan ini adalah anakku yang dia tinggalkan ketika saya masih mengandungnya.” Lalu keduanya saling berpelukan, yakni Farrukh dan putranya Rabi’ah dan keduanya pun menangis haru.Setelah itu Farrukh masuk rumah dan berkata kepada istrinya: “Inikah anakku yang aku tinggalkan ketika masih janin?” Istrinya menjawab: “Benar.” Farrukh berkata: “Keluarkanlah harta yang pernah aku tinggalkan kepadamu. Saya juga masih membawa uang sebanyak 4000 dinar”. Istrinya berkata : “Aku telah menabungnya dan aku akan mengeluarkannya untukmu beberapa hari lagi”. Kemudian Rabi’ah keluar menuju masjid dan duduk di halaqahnya. Lalu Imam Malik mendatanginya, begitupun Al Hasan bin Yazid dan Ibnu Abi Ali yang dikenal sebagai tokoh tokoh penduduk Madinah. Mereka hendak menuntut ilmu kepada Rabi’ah, orang yang paling menguasai ilmu.

Sementara itu Ummu Rabi’ah berkata kepada Farrukh suaminya: “Keluarlah dan shalatlah di Masjid Rasulullah. Farrukh keluar menuju masjid dan melihat suatu majlis ilmu yang dipenuhi oleh para penuntut ilmu. Dia mendatanginya dan ikut di dalamnya. Mereka menyisihkan sedikit tempat untuknya lalu ikut mendengarkan kajian. Ketika itu, Rabi’ah menundukkan kepala sehingga Farrukh tidak melihatnya. Akan tetapi ketika sang ayah mendengar suara syeikh yang berbicara, juga komentar orang orang: “Dia adalah Rabi’ah bin Abi
Abdirrahman!” diapun berkata: “Sungguh Allah telah mengangkat derajat anakku!” Diapun bergegas pulang dan berkata kepada istrinya: “Demi Allah, aku melihat anakmu berada dalam kedudukan yang belum pernah aku melihat ahli ilmu dan ahli fikih yang seperti itu!” Istrinya berkata : “Manakah yang lebih Anda suka, 30 000 dinar ataukah kemuliaan yang diraih oleh anakmu?” Farrukh menjawab: “Demi Allah keadaan anakku lebih aku sukai daripada uang 30 000 dinar.” Lalu istrinya berkata: “Sesungguhnya aku telah membelanjakan
seluruh harta yang engkau tinggalkan untuk pendidikan anakmu.” Farrukh berkata : “Sungguh engkau tidak menyia-nyiakan harta itu.” (Hal. 64 – 67).

[SERUAN]
Pada halaman terakhir, Syaikh Abdul Malik Al Qosim berkata,
“Sudah seharusnya Anda menyempurnakan syarat istiqomah dalam pribadimu. Sehingga engkau sukses bersama seorang istri yang shalihah. Yakni hendaknya Anda berupaya menjadi laki laki yang shalih yang berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an, mentaati Allah Subhanahu wa ta’ala dan perintah Rasul Nya yang
mulia. Adalah sia sia jika seorang yang lalai ingin melamar wanita baik-baik. Barang siapa hendak melamar wanita baik baik maka tidak perlu memberikan mahar yang terlalu mahal. Yang perlu Anda pikirkan pertama ketika hendak menikah dengan wanita shalihah adalah memikirkan upaya untuk memperbaiki dirimu sendiri.” (Hal. 81).

[PERSONAL VIEW]
Selama beberapa waktu sebenarnya saya bertanya – tanya di dalam hati, apa hikmah menikahi wanita shalihah, yang saya yakin ada hikmahnya yang besar karena Rasulullah telah menyabdakannya. Alhamdulillah, pada satu kajian Allah memudahkan saya. Ada seorang ikhwan yang menjual buku ini. Tanpa pikir panjang, saya pun membelinya.

Ini satu buku yang memberikan jawaban kenapa harus menikahi wanita shalihah. Banyak manfaat yang diperoleh dengan menikahi wanita shalihah. Dijelaskan puluhan manfaat di buku tersebut. Dilanjutkan dengan banyak kisah yang menggambarkan kiprah para wanita shalihah dalam berbakti kepada suaminya, termasuk juga dalam mendidik anak anaknya. Saya kira buku ini patut sekali dibaca dan dipahami oleh mereka yang akan menikah. Dan tidak tertutup juga buat mereka yang sudah menikah. Baik para ikhwan dan juga akhwat. Benarlah apa yang dikatakan Rasulullah (yang artinya): “Hendaklah engkau memilih wanita yang baik agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaq ‘alaihi).

Karena bila tidak, do’a mereka pun tidak bisa diharapkan ….

2 Responses to “BUAH YANG DIPETIK KARENA MEMILIKI ISTRI SHALIHAH”

  1. Bram Chopper said

    Crita Yang bagus Serta plajaran yang sangat bagus
    sangat bermanfaan bagi umat muslim
    tpi knapa kbanyakan isi na ttg kaum muslimah buk
    coba 50:50 buk 50% ttg muslimin trus 50% ttg muslimah buk
    Jadi yang baca na enak n gak kaum muslimah aj y banyak kaun muslimin jga

    • nisahmad said

      Tmn…..dO’akan agar niZ bisa menampiLkan haL2 yang Lbh baguZ gi….

      khan yg punya BLOG seOrang musLimah Jd niZ Lbh enk Ja kLO’sahring msLh MUSLIMAH…heee….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: