Nisahmad's Blog

Meniti Di Atas Kabut Cinta…Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Sampaikan dariku meski hanya satu ayat …" (HR. Al-Bukhori, VI/3461)

WANITA MEMANG BERBEDA

Posted by nisahmad on April 14, 2009

Bismillahirrahmanirrahiim

Seringkali syari’at yang memuliakan kedudukan wanita justru dipelintir dan dijadikan dalih sebagai ayat yang memberikan kebebasan pada wanita tanpa batas. Nasarudin Umar dalam tulisannya “Teologi Pembebasan Perempuan” (Islamlib.com) mengungkapkan realisasi Islam dalam menghormati kaum wanita: adanya syari’at aqiqah, juga adanya hak waris dan persaksian. Kemudian ayat ini dijadikan dalih bahwa hak dan kebebasan wanita sama dengan laki-laki. Lebih nyeleneh lagi, dia benturkan dengan syari’at jilbab, yang menurutnya telah mengekang kebebasan bagi wanita.

Islam tidak mutlak melarang wanita beraktifitas di luar rumah, tapi tidak bebas tanpa batas atau tanpa alasan yang dibenarkan.

Allah ta’ala berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab:33).

Maka jelaslah kesalahan orang yang mengatakan bahwa tak ada satu ayat pun yang membatasi ruang gerak bagi wanita. Bahkan tidak hanya satu ayat itu saja, tapi banyak rambu-rambu lain: ijin pada suami atau wali sehingga tidak mengurangi hak mereka, pekerjaan yang sesuai dengan tabi’at wanita, berpakaian yang benar dan tidak khalwat bersama laki-laki lain.

IJIN SUAMI ATAU WALI
Bagi wanita yang sudah berkeluarga, suami adalah pihak yang paling berhak ditaati setelah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan bagi wanita yang masih di bawah tanggung jawab orang tua, keduanyalah adalah wali yang akan mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak.

Allah ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim:6).

Bekerja di luar rumah karena sebuah kebutuhan jelas tidak dilarang, tapi sebagai suami mesti bertanggung jawab atas apa yang dilakukan seorang istri. Pertimbangan maslahat dan mafsadah adalah satu keharusan.

Rasulullah saw, bersabda: “seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya, dan bertanggung jawab atas mereka.” (HR.Bukhari).

Bila hubungan komunikasi keduanya baik, tentu hak suami dan anak tidak terabaikan. Ia tahu hak dan kewajiban sebagai seorang istri.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Wahai Abdullah, apakah belum diberitahukan padamu, bahwa engkau telah shaum di siang hari dan shalat di malam hari.” Ia menjawab: “Betul, wahai Rasulullah.” Rasul bersabda: “janganlah engkau berbuat seperti itu. Laksanakan shiyam juga berbuka, dirikan shalat juga tidur. Karena sesungguhnya badanmu punya hak atas dirimu, sesungguhnya matamu punya hak atas dirimu, dan sesungguhnya istrimu punya hak atas dirimu.” (HR. Bukhari).

DISESUAIKAN DENGAN TABIATNYA
Tidak bisa dipungkiri oleh akal yang sehat, bahwa tabi’at wanita berbeda dengan laki-laki. Hal ini sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala yang telah menciptakan hawa dari tulang rusuk adam. Dalam banyak hal, wanita memang berbeda dengan laki-laki. Tapi hal itu bukan bermakna bahwa wanita adalah manusia kelas dua. Perbedaan yang ada justru demi menjaga martabat dan kemuliaan wanita, sesuai fitrahnya. Memaksakan persamaan antara wanita dengan laki-laki dalam semua aspek justru akan menjerumuskan wanita dalam kerusakan dan kehinaan. Seperti dalam pekerjaan misalnya, siapapun pasti sepakat mengatakan janggal bila seorang wanita berprofesi sebagai sopir bis malam atau sebagai nelayan yang semalaman mencari ikan di lautan. Karena bukan yang seperti pekerjaan yang sesuai dengan tabiat jasad dan psikologis seorang wanita.

Demikian juga dalam urusan kepemimpinan, bagaimanapun jika wanita dipaksakan menjadi pemimpin bagi laki-laki niscaya akan menimbulkan kerusakan. Dalam menafsirkan. “kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).” (QS.an-Nisa:34), Ibnu Katsir berkata, “Laki-laki lebih utama dari wanita, sehingga kenabian pun dikhususkan bagi laki-laki, demikian dengan jabatan khalifah. Nabi bersabda, “sebuah kaum tidak akan beruntung bila dipimpin oleh seorang wanita.” (HR Bukhari)

DEMIKIAN JUGA DALAM BUSANA
Kewajiban jilbab sama sekali bukan sebuah pengekangan terhadap kebebasan seorang wanita, tapi merupakan syariat yang selaras dengan kodrat wanita agar terjauhkan dari fitnah. Kedudukannya sama dengan kewajiban shalat, shaum dan kewajiban lainnya.

Allah ta’ala berfirman: “katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka”. (QS. An-Nuur:31).

Busana dan pergaulan seorang wanita di luar rumah harus di jaga. Tertutupnya aurat dari pandangan laki-laki, tidak menggunakan wangi-wangian, tidak tabarruj, berusaha agar tidak khalwat mestinya sudah menjadi kebiasaan kaum hawa agar terbebas dari fitnah.

Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, kecuali syaitan yang ketiganya.” (HR. Tirmidzi).

Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: