Nisahmad's Blog

Meniti Di Atas Kabut Cinta…Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Sampaikan dariku meski hanya satu ayat …" (HR. Al-Bukhori, VI/3461)

UMMU AIMAN AL-HABASYIYAH RADHIYALLAHU ANHA

Posted by nisahmad on April 14, 2009

Jika manusia mencintai seseorang, maka ia siap menerima cinta orang tersebut dalam dirinya. Dengan demikian telah sempurna perkara persahabatan antara kedua belah pihak. Persahabatan itu menjadi sempurna sejauh mana masing-masing pihak mendapatkan anugerah berupa kelapangan hati, perasaan halus, akhlak yang bagus, dan sifat setia kepada janji. Kita akan hidup bersama seorang wanita yang memiliki perasaan yang halus, kelembutan yang tulus. Wanita yang telah meraih puncaknya iman tertinggi dan mendapatkan keuntungan berupa penghormatan dari orang tercinta, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Wanita lembut tersebut bukan sembarang wanita. Ia memiliki kedudukan dan kemasyhuran seluas alam mereka. Dia menduduki kedudukan mulia dan luhur kerana anugerah Allah kepadanya. Ia laksana warisan yang mahal harganya. Berkat anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia menjadi merdeka dan berkedududkan mulia. Ia sangat dihormati. Ia sangat disenangi kerana kedudukannya yang istimewa. Bagaimana tidak? Rasulullah saja memanggilnya, “Wahai ibuku?! Apakah di atas derajat seorang ibu ada derajat yang lebih tinggi?

Siapa gerangan wanita yang sangat lembut tersebut?

Ia adalah Ummu Aiman Al-Habasyiyah. Budak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan pengasuh beliau. Namanya Barkah bintu Tsa’labah bin Amru. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mewarisi dari ayahnya bersama 5 unta jantan dan kambing. Ia dimerdekakan ketika beliau menikah dengan Siti Khadijah Ummul Mukminin. Ummu Aiman menunjukkan sifat ketawadhuannya yang memukau ketika ibunda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam (Aminah bintu Wahab) meninggal dunia. Aminah meninggal di Abwa(1) ketika pulang berziarah dari rumah para bibinya, bani An-Najjar, di Madinah Munawwarah. Ummu Aiman turut mendampinginya dalam ziarah tersebut.

Pada masa yang sangat sulit dan menyakitkan itu, Ummu Aiman memperlihatkan kelembutan dan baktinya kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang ketika itu masih berumur 6 tahun. Ummu Aiman pulang ke Makkah bersama beliau yang yatim piatu dan dirundung duka mendalam kerana berpisah dengan ibunya, Aminah untuk selamanya. Di dalam arsip tentang cinta suci seorang manusia, muncullah Ummu Aiman mencatatkan beberapa karya indah ketika mengasuh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan penuh perhatian. Ketahuilah bahwa Abdul Muththalib berwasiat kepadanya tentang Nabi. Sang kakek memberikan petunjuk kepada Ummu Aiman tentang bagaimana ia harus memperhatikan Rasulullah. Tidak boleh melalaikan Rasulullah sekejap mata pun.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tumbuh dan berkembang dalam kasih sayang Ummu Aiman. Dia menjaga, menghormati, dan berbakti kepada beliau. Oleh kerana itu, beliau bersabda kepadanya, “Wahai Ibuku,” Jika beliau melihat Ummu Aiman, maka beliau bersabda, “Ini adlaah sisa anggota keluargaku.” Bahkan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memposisikannya pada kedudukan sebagai anggota keluarganya.

Ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahi Khadijah, Ummu Aiman dimerdekakan. Ia dinikahi oleh Ubaid bin Zaid Al-Khazraji, lalu melahirkan Aiman bin Ubaid. Lalu dinikahi oleh Zaid bin Haritsah di malam-malam ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam resmi diutus menjadi Rasul. Ia melahirkan Usamah bin Zaid(2) seorang kecintaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, anak kedua dari budaknya Radhiyallahu Anhuma.

Pada waktu tertentu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam suka bertandang ke kediamannya. Beliau suka menyebut keutamaannya seraya bersabda, “Ummu Aiman adalah Ibuku setelah Ibuku.”

Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bangkit untuk mengajak kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Islam, Ummu Aiman adalah salah seorang rombongan awal orang-orang yang membenarkan dakwah Rasulullah. Penulis sirah Al-Halabiah menukil dari Ibnu Katsir, “Yang jelas seluruh anggota keluarga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam beriman kepada beliau sebelum siapa pun. Mereka adalah Khadijah, Zaid, isteri Zaid, Ummu Aiman, dan Ali.”

Sudah selayaknya Ummu Aiman lebih dahulu masuk Islam daripada wanita-wanita shahabiah lainnya. Dikarenakan ia banyak mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kenabian sejak sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi rasul. Tentang dirinya, Ibnu Katsir mengatakan, “Dia masuk Islam dari masa permulaan.”

Sebagaimana kaum pria dan kaum wanita Muslim terdahulu, ia menerima berbagai siksaan dari kaum Quraisy karena keislamannya. Dia turut berhijrah ke Habsyah dan Madinah. Dia berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dengan demikian bertambahlah kegiatannya di dalam berbagai bidang kebaikan, khususnya bidang jihad, kesabaran dan kedermawanan.

Ummu Aiman Radhiyallahu Anha memiliki jasa besar di lapangan jihad. Dia ikut bergabung dalam Perang Uhud sebagai pemberi air minum untuk para mujahidin dan memberikan pengobatan untuk mereka yang terluka. Ketika tentera Muslim mengalami kekalahan dalam Perang Uhud, mereka menemuinya. Dia bersihkan debu dari wajah mereka dan berkata kepada sebagian dari mereka, “Di sana tempat ganti pakaian, gantilah pakaian dan bawa kemari pedangmu.”

Ummu Aiman juga bergabung dalam Perang Khaibar bersama beberapa isteri para sahabat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi mereka sebagian dari harta rampasan perang.

Pada Perang Hunain, dia berada dalam satu rombongan bersama dua anaknya: Aiman(3) dan Usamah Radhiyallahu Anhuma. Kedua anaknya termasuk seratus orang yang sabar bertahan di sekitar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada waktu itu. Akan tetapi, Aiman mati syahid. Kesyahidan Aiman tidak menambah padanya, melainkan keimanan dan penyerahan diri secara total kepada Allah.

Pada Perang Mut’tah, suaminya (Zaid bin Haritsah) bertindak sebagai amir pasukan. Zaid bin Haritsah adalah pahlawan syahid yang pertama. Ummu Aiman menerima berita kesyahidannya dengan hati yang ridha dan sabar. Ia hanya menggantungkan harapannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

(1) Desa di antara Makkah dan Madinah, tempat permakaman ayahanda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abdullah bin Abdul-Muththalib.

(2) Usamah bin Zaid bin Haritsah adalah orang yang dicintai Nabi,sebagaimana beliau mencintai Hasan dan Husein. Diangkat menjadi panglima perang sebelum berumur 20 tahun. Meriwayatkan 128 hadits. Meninggal di Madinah.

(3) Aiman bin Ummu Aiman salah satu dari 10 orang yang melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada Perang Hunain. Mereka adalah: Abu Bakar, Umar, Ali, Al-Abbas, Abu Sufyan, Ja’far, Usamah, Aiman, Rabi’ah dan Al-Fadhi.

Ummu Aimin memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata tentang dirinya, “Barang siapa yang ingin menikahi wanita ahli syurga, hendaklah menikahi Ummu Aiman.” Ucapan inilah yang menjadikan Zaid bin Haritsah memandang kemuliaan pada diri Ummu Aiman, maka ia pun menikahinya.

Lebih dari itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggilnya, “Wahai Ibuku”, setiap beliau melihatnya atau sedang berbicara dengannya. Beliau siap mendengarkan pembicaraannya, berlemah-lembut kepadanya, riang dan bercanda dengannya. Pada Perang Hunain, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar Ummu Aiman berdoa dengan gaya bahasa yang asing dan salah “Sabbatallahu Aqdaamakum” (Semoga Allah memotong kaki kalian). Perang yang berkecamuk tidak membuat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lupa untuk mendengarkan tutur kata UmmuAiman dan bercanda dengannya diselingi ringkikan kuda dan gemerincing suara pedang. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menghampirinya seraya bersabda, “Diam
wahai Ummu Aiman kerana engkau termasuk orang yang berlidah kelu.”

Terbukti bahawa gaya bahasa yang asing pada lidah Ummu Aiman sudah sangat kelat dengannya sehingga menyulitkannya untuk berbicara dengan pengucapan yang betul. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Al-Baqir, “Jika Ummu Aiman datang ke hadapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu berkata, “Salaamun laa ‘alaikum” (Semoga keselamatan tidak diberikan kepada engkau) sebagai ganti “Salaamullahi Alaikum (Semoga keselamatan diberikan kepada engkau). Dia diberi kemudahan oleh Rasulullah untuk hanya mengucapkan “Assalaam”.

Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkunjung kepadanya dengan didampingi oleh pembantu beliau, Anas. Ummu Aiman mendekatkan kepada beliau segelas susu. Entah Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang berpuasa atau berucap, “Aku tidak mau,” sehingga Ummu Aiman menjadikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tertawa. Beliau menjadi senang dengannya dan selalu ingat berbagai keutamaannya.

Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wafat, Ummu Aiman terdiam dengan kesedihan memenuhi hatinya. Airmatanya membanjiri kedua matanya. Tergeraklah batinnya yang bersih. Lalu memuji Nabi dengan qasidah. Sesuatu yang menggugah dan menghibur adalah ketika Ummu Aiman membawakan syair, atau mengucapkan kata-kata hikmah dengan lidah kelunya. Ini tidak memberikan apa-apa kepada akal, hati dan kebijaksanaannya. Ini adalah bukti pengetahuannya sekitar kenabian yang mempengaruhinya.

Bukti bahawa ia memiliki keluasan ilmu, keutamaan, dan kecerdasan adalah sebgaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Anas Radhiyallahu Anhu, “Setelah wafat Rasulullah, Abu Bakar berkata kepada Umar, ‘Ayo, kita berangkat menuju Ummu Aiman untuk mengunjunginya sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu mengunjunginya.'”

Ketika kami tiba di rumahnya, Ummu Aiman menangis. Abu Bakar bertanya, “Kenapa engkau menangis, segala apa yang dikehendaki Allah adalah yang paling baik bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?”

Dia menjawab, “Aku menangis kerana bukan aku tidak tahu bahwa segala apa yang dikehendaki Allah adalah yang paling baik bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tetapi aku menangis kerana terputusnya wahyu dari langit.”

Jawabannya menggoncangkan keduanya dan menjadikan kedua-duanya menangis bersamanya.
Ummu Aiman dalam hidup dan setelah kematiannya beruntung kerana mendapatkan kedudukan sangat terhormat. Demikian pula para cucunya yang dikenal loyal kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dikatakan kepada mereka, “Anak kesayangan.”
Mengenai wafatnya Ummu Aiman, Adz-Dzahaby dan Ibnu Hajar Rahimahumullah mengatakan, “Ia meninggal lima bulan setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat.”

Semoga Allah ridha kepada Ummu Aiman penghuni syurga. Dan semoga Allah menjadikannya termasuk golongan kanan. Amiinn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: